Catatan Berharga Temu Alumni Kubro ke-4 Tahun 2018

by Safi'i Nur
Temu Alumni Kubro - Fatihul Ulum 2018

Catatan Redaksi:
Temu Alumni ini dilaksanakan pada hari Selasa, 13 November 2018 (05 Robi’ul Awwal 1440 H). Merupakan temu alumni terakhir yang dihadiri Hadhrotus Syekh Kiai Mahfudz Abdul Hannan karena tepat keesokan harinya beliau wafat.

Temu Alumni Kubro terdiri dari tiga kata. Temu artinya bertemu, pertemuan, saling bertemu. Alumni artinya santri atau murid yang pernah atau selesai belajar di satu kelompok belajar atau lembaga. Menurut KBBI, alumni adalah orang-orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah/madrasah atau perguruan tinggi. Sedang Kubro artinya besar, seluruhnya. Secara bebas Temu Alumni Kubro bisa diartikan sebagai saling bertemu satu sama lain dari seluruh angkatan yang sebelumnya pernah atau tamat belajar di satu lembaga.

Tujuan bertemu adalah terjalin silaturrahim, saling melepas rindu, saling memaafkan, dan bisa juga terjadi saling berkeluh kesah. Untuk mencapai berbagai tujuan tersebut tidak diperlukan banyak finansial dan persiapan khusus. Karena tujuan-tujuan tersebut sudah termasuk hikmah bertemu tidak hanya dalam temu alumni, tapi juga dalam pertemuan-pertemuan lain seperti bertemu ketika acara haflah imtihan.

Temu Alumni Kubro - Fatihul Ulum 2018
Temu Alumni Kubro – Fatihul Ulum 2018

Temu Alumni Kubro, seperti yang dilaksanakan tahun 2018 ini, menurut hemat saya harus mempunyai tujuan-tujuan yang khusus agar memperoleh sesuatu yang spesial. Tujuan khusus inilah yang harus direncanakan dan dikonsep secara benar. Untuk membangun konsep yang benar, bisa diawali dengan beberapa pertanyaan, misalnya:

  1. Apa yang ingin kita capai?
  2. Bagaimana langkah-langkahnya?
  3. Bagaimana tindak lanjutnya?
  4. Atau pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sesuai.

Katakanlah yang ingin dicapai adalah kontribusi dan peran serta dari ribuan alumni untuk turut serta peduli dan membesarkan almamater (PP Fatihul Ulum Manggisan). Maka langkah yang bisa ditempuh adalah memperluas pintu masukan-masukan membangun dengan cara memberi kesempatan berbicara kepada yang ingin bicara. Tentu akan membutuhkan banyak waktu, maka yang belum sempat berbicara bisa menyampaikannya lewat lembar catatan yang disediakan panitia atau dicari cara lain yang sesuai kondisi dan situasi.

Dari masukan-masukan akan terkumpul banyak saran, selanjutnya tinggal berfikir tindak lanjut dari masukan-masukan itu. Tidak harus semua masukan dieksekusi, melainkan pilihlah yang terbaik dan berpeluang dilakukan hingga tuntas.

Para alumni yang sudah memberi masukan mungkin akan bertanya-tanya apakah masukannya sudah diterapkan?

Di sini membutuhkan media atau corong atau juru bicara untuk menjelaskannya. Bisa melalui laporan tertulis atau lainnya. Laporan ini akan mudah sampai ke semua lapisan alumni jika kita punya kepengurusan yang terlembagakan di pusat dan di cabang-cabang.

Nah, sekarang mari kita coba merefleksi kegiatan Temu Alumni Kubro 2018 yang baru saja kita lalui. Merefleksi bisa diartikan memilih dan memilah manfaat, kelebihan, dan kekurangannya.

. . . . karena dalam diri setiap ulama ada ilmu. Ilmunya itulah yang menjadi alasan berhak dihormati.

Manfaat yang diperoleh sungguh sangat banyak. Pertama, kita sudah bisa sowan kepada Majelis Keluarga Manggisan, membaca tahlil bersama, berjumpa teman lama, dan melihat perkembangan pesantren dari dekat. Kedua, kita bisa mengetahui prestasi yang sudah tercapai dan rencana jangka pendek dan panjang kedepannya dari paparan yang disampaikan pengurus pesantren.

Kelebihannya juga banyak. Pertama, acara berjalan sukses hampir tanpa halangan. Kedua, panitia dengan seragamnya yang keren, bahu-membahu menyiapkan segala hal yang dibutuhkan. Oh ya, ada juga Ghost Team yaitu tim tidak tampak yang masak di dapur yang juga sangat besar perannya dan bisa langsung ‘dirasakan’ hasilnya (menyiapkan makanan).

Ketiga, kita mendapatkan cerita pengalaman berharga dari wakil-wakil alumni berbagai daerah. Cerita-cerita dimaksud seperti yang saya coba himpun berikut ini.

Cerita Wakil Kabupaten Jember

  • Mengupas takdim santri kepada ilmu dan guru untuk memperoleh ilmu yang manfaat.
  • Hormatilah semua kiai atau ulama, karena dalam diri setiap ulama ada ilmu. Ilmunya itulah yang menjadi alasan berhak dihormati. Jangan sombong.
    (catatan: pesan seperti ini juga sering saya dengar dari Kiai Mahfudz)
  • Rukunlah dengan sesama manusia. Jadilah seperti tawon atau madu yang kalau diminum banyak manfaatnya.
  • Kalau ingin menjadi tukang pidato maka resepnya adalah ketika bangun tidur langsung menghadap cermin dan berpidato pada dirimu sendiri.

Wakil Jember ini sama sekali tidak memberi masukan kepada almamater.

Cerita Wakil dari Lumajang

  • Masukan pertama tentang bacaan Al-Quran santri. Dulu ngaji sangat diutamakan. Ustadz harus bisa mengaji dengan benar. Ngaji belum benar belum boleh ngajar. Nah, sekarang bacaan sebagian Al-Quran santri kurang bagus. Karena itulah, harap bacaan Al-Quran santri betul-betul mendapat perhatian.
  • Sikap pengabdian santri pada guru zaman ini sudah tidak sama dengan santri zaman dahulu.
  • Menjelaskan juga tentang barokah dan ilmu. Barokah bisa dicapai dengan pengabdian dan ilmu bisa dicapai dengan belajar.
  • Wakil Lumajang memberi satu masukan kepada almamater berupa “memperbaiki bacaan al-Quran santri” dengan alasan sederhana yaitu setiap Kamis malam Jumat manis banyak Khotmil Quran.

Cerita Wakil dari Bondowoso

  • Jangan melanggar peraturan pesantren agar dapat barokah.
  • Berebutlah mengambil peran dalam melayani guru.
  • Di Bondowoso ada alumni sepuh usia lebih 100 tahun.
  • Secara batin, biasanya Kiai hadir dalam mimpi atau bertamu ketika santrinya punya masalah.

Wakil Bondowoso tidak menyampaikan saran masukan kepada almamater.

Cerita Wakil dari Banyuwangi

  • Ilmu barokah bisa dicapai dengan sami’na wa atho’na pada dawuh guru.
  • Malah minta maaf kepada pengasuh karena dulu sering melanggar peraturan (he he he… ).
  • Setiap permintaan Kiai Mahfudz pada KH Hannan selalu dituruti. Dia minta dimintakan maaf pada KH Hannan atas kesalahannya dahulu.

Cerita Wakil dari Probolinggo

Inti ceramah Kiai Munir Sentong (santri zaman 1954 – 1959) usia 78 tahun, wakil Probolinggo.

  • Dulu kalau salah baca kitab di tempeleng. (tafsir penulis: tapi tidak menyebabkan derita permanen.)
  • Masa itu santri Pondok Manggisan masih 70 orang.
  • Ilmu yang diperoleh amalkan. Bicara barokah juga.
  • Setiap hari Jumat, Kiai Hannan mengaji dan santri mendengarkan.

Wakil Probolinggo juga tidak memberikan masukan atau saran apapun.

Dari paparan alumni yang sempat saya dengar dan catat diatas, hampir seluruhnya bercerita masa lalu. Artinya tujuan bertemu berupa “kangen-kangenan” sudah tercapai. Paparan mereka belum berpikir bagaimana Pesantren Fatihul Ulum Manggisan dimasa sekarang dan dimasa depan. Hanya ada satu masukan dari paparan wakil Lumajang yaitu ‘membenahi bacaan Alquran santri’. Karena ini satu-satunya masukan, maka panitia harus melakukan tindak lanjut.

Jangan takut pada suara auman harimau. HADAPI SAJA! Siapa tahu harimau yang mengaum ternyata OMPONG!

Kiai Mahfudz Abdul Hannan

Sepinya masukan-masukan dari para wakil yang berbicara setidaknya mempunyai tiga kemungkinan. Pertama, apa yang sekarang ada dan dilakukan oleh pengelola pesantren sudah cocok dan sesuai dengan apa yang dipikir para alumni. Kedua, para alumni tidak mengetahui keadaan mutaakhir pesantren sehingga tidak tahu apa yang hendak diusulkan. Ketiga, wakilnya tidak mewakili daerahnya atau yang mewakili hanya dari generasi lampau, bukan generasi muda.

Kelebihan keempat adalah kita bisa mendengar pesan-pesan Kiai Mahfudz secara langsung. Dan ternyata pesan-pesan ini adalah pesan terakhir.

Inti Ceramah Kiai Mahfudz

– Ajakan kiai agar alumni jangan sampai busuk dalam arti tidak bisa digunakan atau dimanfaatkan.

– Kalau dulu pingin barokah harus tunduk pada kiai. Nah, kalau sekarang (sudah alumni) cara tunduknya adalah dengan mendukung program pesantren.

– Alumni jangan suka bicara diluar, tapi lakukanlah klarifikasi ke pesantren kalau ada yang ingin ditanyakan.

– Apa yang sudah berkurang di Pesantren, sampaikan baik baik, jangan dibiarkan. Membiarkan sama dengan tidak peduli / khianat.

– Kesan kiai dengan KH Hannan, bahwa kiai Hannan berpesan jangan MAHAL biaya mondok. Jangan repotkan para wali santri.

– Santri telat bayar iuran, jangan diberatkan.

– Dulu kiai Hannan pernah marah gara-gara pengurus pondok memungut iuran yang memberatkan. Lalu beliau berpesan agar iuran tidak memberatkan wali santri.

– Kiai mengajak, “Ayo!! Dukung program pesantren selagi Kiai Mahfudz masih hidup. Jangan koar-koar sepeninggalnya.”

– Kiai mengundurkan diri dari mengajar karena mau fokus pada pembangunan fisik pesantren.

– Nabi menang perang karena kesungguhannya kepada Allah bukan karena jumlah pasukannya.

– Kiai juga bercerita bahwa, awal jadi pengasuh (tahun 1991), ada yang meramalkan kiai; setahun Pondok Manggisan akan goyang. Dua tahun akan bubar. Tapi kiai menghadapinya dengan sabar dan ternyata berkembang.

– “Jangan takut pada suara auman harimau. HADAPI SAJA! Siapa tahu harimau yang mengaum ternyata OMPONG!”.

– Kalau ada yang salah (kurang sesuai) dari kebijakan pengurus pesantren sampaikan saja ke kiai, jangan dibiarkan. Membiarkan sama dengan tidak peduli.

– Metode baca kitab i’dad juga sedikit disinggung oleh kiai,

– Kiai sangat menyayangkan ada sementara alumni yang merasa menyesal mondok di Pondok Manggisan.

Nah, setelah menguak manfaat dan kelebihannya, tentu perlu diketahui juga kekurangannya. Tak ada gading yang tak retak. Tak ada sesuatu yang sempurna. Tak perlu tabu dengan kekurangan. Mengetahui kekurangan berarti siap memperbaiki di kemudian hari.

Kekurangan Temu Alumni Kali Ini

Sejenak setelah temu alumni usai, tiba-tiba saja ada perbincangan sengit di grup WhatsApp para ustadz. Perihal yang diperbincangkan adalah apa yang dirasa kurang.

Pertama, susunan acara yang tidak dipublikasikan sebelum acara dimulai.
Publikasi susunan acara setidaknya bisa membuat para alumni mempersiapkan diri.

Kedua, peletakan diesel terlalu dekat dengan tempat acara.
Suara diesel dirasa sangat mengganggu para alumni ketika mengikuti acara.

Ketiga, sepinya masukan yang membangun untuk pesantren, sebagaimana telah disinggung di atas.

Keempat, bazar (jualan santri) yang kurang fokus dan kelihatan kurang manajemen.

Kelima, tidak ada penentuan tema dan tujuan acara.

Keenam, background di pentas sangat bagus desainnya, tetapi tulisannya ‘selamat datang’.
Harusnya di sana tertulis nama acara dan tema saja.

Ketujuh, sebaran undangan yang kurang merata.
Kemungkinan panitia tidak punya data per wilayah. Maka daftar hadir pada acara sebaiknya diketik rapi, dijilid, dan disimpan rapi untuk kepentingan selanjutnya.

Harapan Alumni

Ada beberapa harapan alumni yang berhasil saya himpun. Pertama, alumni ingin agar Alumni Fatihul Ulum mempunyai nama dan kepengurusan yang resmi dengan masa bakti terbatas. Kedua, sebagian alumni berharap Temu Alumni menjembatani terbentuknya informasi bisnis antar alumni. Maksudnya, ada database tentang siapa, punya usaha apa, dan dimana. Database semacam ini, Insyaallah sangat bermanfaat untuk terjalinnya kerjasama antar alumni. Ketiga, sebagian alumni berharap terbitnya buku-buku karya santri Fatihul Ulum Manggisan, lebih-lebih sejarah KH Abdul Hannan dan juga KH Mahfudz.

Demikian refleksi yang bisa penulis sampaikan. Semoga bermanfaat.
“Kecepot Guleh Mera, Sala Lopot Minta Sepora”.

Related Posts

6 comments

syamsur ridho 6 Desember 2018 - 11:24 pm

usulan…
kalau bisa tampilkan tanggal beserta hari berlangsung nya acara alumni kubro ke 4
agar lebih jelas dan diingat.

Reply
Manggisan.Net 7 Desember 2018 - 2:02 am

Usulan yang baik. Sekarang artikel sudah kami perbarui terkait usul ini.

Reply
hayyik 11 Desember 2018 - 11:34 am

nulis dan ngeritik itu pancen murah karena tak usah pakek modal

Reply
Manggisan.Net 12 Desember 2018 - 11:47 am

Kamu yakin bisa nulis? Huruf besar dan titik kamu masih kacau tuh 🙂

Reply
Santi 31 Desember 2018 - 1:29 am

Semoga kita mendapat barokah dari syekhina Guru besar KH MAHFUDZ ABDUL HANNAN.dan semoga Pondok Fatihul ulum lebih maju dalam memperbaiki umat amin.

http://fatihululum.site

Reply
Manggisan.Net 1 Januari 2019 - 9:55 am

Amin.

Reply

Leave a Comment