Mendamaikan Hisab dan Rukyat

by Safi'i Nur
Mendamaikan Rukyat dan Hisab

Setiap menjelang bulan romadlon selalu hangat dibicarakan tentang lebih baik mana antara mengikuti ketetapan para ahli hisab (al-Hussab) atau kelompok ahli rukyah. Mana yang harus diikuti dalam memulai dan mengakhiri puasa.

Di sebagian majelis ilmu pembicaraan masalah ini tidak hanya hangat tetapi sudah mendidih. Biasanya ditandai dengan saling menyalahkan sehingga timbul ketegangan.

Kalau diamati di permukaan saja kita sudah bisa melihat, bara yang menyebabkan ketegangan ini adalah salah paham tentang pengertian dan posisi rukyat dan hisab.

Untuk mengakhirinya, kita bisa menempuh jalan ‘ilmu pengetahuan’. Yakni memahami keduanya (rukyat dan hisab) dari sudut pandang kelebihan dan kekurangannya menurut ilmu pengetahuan. Jalan keluar inilah yang saya maksud dengan Mendamaikan Hisab dan Rukyat.

Pengertian Hisab dan Rukyat

Hisab

“Dialah (Allah) yang menjadikan matahari bercahaya dan bulan bersinar dan menetapkan untuk bulan manzilah-manzilah supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan” (Quran, Yunus:5).

Dalam ayat lain, “matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (Quran, Ar-Rohman:5).

Dua ayat ini adalah pijakan ahlu al-Hussab. Berdasarkan ayat ini berarti peredaran bulan bisa dihitung sehingga bisa diketahui posisi-posisinya secara pasti (ilmu hitung juga disebut ilmu pasti). Berarti pula awal dan akhir bulan qomariah (kalender hijryah) juga bisa dihitung dengan pasti.

Lebih jauh lagi, dengan hisab kita bisa mengetahui kapan terjadi gerhana bulan, gerhana matahari, bahkan kita bisa mengetahui posisi matahari saat istiwak, saat terbit dan saat terbenam (kaitannya dengan waktu sholat lima waktu).

Namun, dari sudut ilmu pengetahuan, para ahli berkesimpulan bahwa posisi edar bulan dalam beberapa masa yang lama bergeser dari garis edar semula. Jika begitu kenyataannya, maka ilmu hisab berkembang, artinya teori yang ada dalam kitab hisab tidaklah baku, tetapi harus terus di-update mengikuti perkembangan teknologi antariksa (ilmu astronomi). Karena dengan adanya pergeseran garis edar berarti menggeser pula keakuratan suatu rumus.

Perkembangan ilmu astronomi selanjutnya akan membedakan beberapa kitab/buku falak dalam beberapa tingkat dilihat dari segi keakuratannya dan usia temuan data tentang gerakan benda-benda langit, antara lain:

  1. Ilmu Hisab Hakiki Taqribi, yang masuk kategori ini adalah kitab Sullamun Nayyiroyni dan Fathul Rouf al-Mannan.
  2. Ilmu Hisab Hakiki Tahqiqi, yaitu antara lain adalah kitab falak Kholashotul Wafiah, Badiatul Mitsal dan Nurul Anwar.
  3. Ilmu Hisab Hakiki Tahqiqi Kontemporer, diantaranya yakni buku Newcomb, Islamic Calender, Astronomical Almanac dan lain-lain termasuk buku-buku terbaru karangan ahli astronomi jaman modern.

Lalu bagaimana dengan kitab Muntaha Nataijil Aqwal yang notabene merupakan kitab Falak andalan Pesantren Fatihul Ulum…?!

Jika dilihat dari sisi keakuratannya kitab ini berada dalam kelompok Ilmu Hisab Hakiki Tahqiqi Kontemporer (walaupun berbahasa arab). Karena kitab-kitab hisab mempunyai derajat keakuratan yang berbeda, maka itu adalah peluang untuk saling berbeda pendapat diantara para ahli hisab sendiri.

Berarti jika penentuan awal dan akhir romadhon diserahkan sepenuhnya kepada para ahli hisab yang kitabnya berbeda itu, tidak menjadi jaminan mereka akan kompak keputusannya.

Rukyat

“Shuumuu liru’yaatihi wa afthiruu liru’yaatihi” (mulailah puasa karena melihat hilal dan berhentilah karena melihat hilal).

Hadits ini adalah pijakan para ulama’ pendukung Rukyatul Hilal. Ulama’ yang mendukung ini adalah ulama’ kebanyakan (jumhur). Mereka berpegang pada hasil rukyat secara mutlak dengan saksi minimal 2 orang (ada yang berpendapat 1 orang saja). Dengan tegas mereka mengatakan, “Laa ibrota liqoulil hussab” (pendapat ahli hisab tidak diperhitungkan).

Sayangnya, akhir-akhir ini rukyat didukung oleh orang-orang awam yang sama sekali tidak mengerti apa yang didukung. Mereka inilah yang memperkeruh situasi menjelang romadhon dan idul fitri dengan cara bersitegang dengan kelompok al-Hussab.

Dari sudut ilmu pengetahuan, kelompok rukyat mendapat kemajuan dengan ditemukannya Teleskop oleh Galileo Galilei (1564-1642 M). Adanya teleskop sangat membantu proses rukyatul hilal (observasi). Tetapi, dalam perjalanannya proses observasi selalu menghadapi kendala alami yaitu awan tebal yang menutupi obyek (bulan).

Dalam sebuah kesempatan, Ustadz Saifuddin Jamil (pengajar Fatihul Ulum) bercerita bahwa pernah ketika sedang melakukan observasi, peserta mengarahkan teleskopnya ke sebelah utara matahari dan melihat ada benda berbentuk sabit dan menyangkanya sebagai ‘hilal’.

Untungnya dari golongan ahli hisab mengatakan bahwa hasil hisabnya menyatakan posisi bulan ada di sebelah selatan matahari. Dan benar saja. Pada kenyataannya benda berbentuk sabit di sebelah utara itu lenyap karena ia hanyalah awan yang sedang lewat saja. Posisi bulan waktu itu benar-benar ada di sebelah selatan matahari, persis seperti hasil hisab.

Sedikit kisah di atas seharusnya bisa menyadarkan para pendukung rukyat, bahwa di saat tertentu dan biasanya sering terjadi, mereka mesti mengikuti hasil hisab. Masalah barunya sekarang, apakah masyarakat awam mau memahaminya? Ini adalah tugas para ulama’ pendukung rukyat agar masyarakatnya diberi pemahaman, jangan membiarkan mereka terus buta.

Mendamaikan Hisab dan Rukyat – Sebuah Usul Jalan Keluar

Imam Ibnu Hajar menawarkan jalan keluar yaitu bahwa kesaksian hilal bisa ditolak (walaupun dengan saksi) manakala ahli hisab sepakat memustahilkannya. Dan bisa diterima apabila tidak demikian.

Tetapi para ahli hisab harus senantiasa memilih kitab hisab terkini yang tingkat keakuratannya tinggi. Untuk mengetahui kitab yang mempunyai tingkat keakuratan tinggi kita bisa membuktikan atau mengukurnya dengan cara mencocokkan dengan hasil rukyat dari waktu ke waktu.

Jika sebuah kitab hasil hitungannya sudah sangat berbeda dengan hasil observasi atau rukyat dari waktu ke waktu, maka bersepakatlah untuk meninggalkan buku itu. Toh kita mencari hilal yang sama. Berarti jika berbeda dalam penentuan ada tidaknya hilal, maka salah satunya ada yang salah.

Diharapkan setelah rukyat dan hisab berdamai tidak ada lagi orang yang mengomentari hisab atau rukyat dengan kebodohannya. Walhasil perbedaan hari raya di indonesia dalam matla’ yang sama bisa dihindari.

Wallahu A’lam Bish-showab.

Related Posts

Leave a Comment